Archive for July, 2008

A. Hasjmy

Sunday, July 6th, 2008

Riwayat Hidup

Siapa yang tidak mengenal A.
Hasjmy? Tokoh Aceh ini dikenal sebagai ulama, sastrawan, dan politikus. Ia lahir
di Lampaseh, Aceh, pada tanggal 28 Maret 1914. Nama kecilnya adalah Muhammad Ali
Hasjim. Ia juga memiliki sejumlah nama samaran yang digunakan dalam berbagai
karangannya tentang puisi dan cerpen, seperti nama al-Hariry, Aria Hadiningsun,
dan Asmara Hakiki. A. Hasjmy merupakan anak kedua Teungku Hasyim dari delapan
bersaudara. Ayahnya merupakan pensiunan pegawai negeri.

A. Hasjmy menikah dengan Zuriah
Aziz pada tanggal 14 Agustus 1941. Ketika itu A. Hasjmy berumur 27 tahun,
sedangkan istrinya berumur 15 tahun (lahir pada Agustus 1926). Mereka dikaruniai
tujuh putra-putri, yaitu: (1). Mahdi A. Hasjmy (lahir pada tanggal 15 Desember
1942); (2). Surya A. Hasjmy (lahir pada tanggal 11 Februari 1945); (3). Dharma
A. Hasjmy (lahir pada tanggal 9 Juni 1947); (4) Gunawan A. Hasjmy (lahir pada
tanggal 5 September 1949 dan meninggal pada tanggal 12 September 1949); (5)
Mulya A. Hasjmy (lahir pada tanggal 23 Maret 1951); (6) Dahlia A. Hasjmy (lahir
pada tanggal 14 Mei 1953); (7) Kamal A. Hasjmy (lahir pada tanggal 21 Juni
1955). 

Hasjmy menempuh pendidikan formal
pertamanya di Government Inlandsche School Montasie Banda Aceh, sebuah lembaga
pendidikan setingkat  sekolah dasar (SD). Ia kemudian melanjutkan
pendidikannya di Madrasah Thawalib di Padang Panjang, baik pada jenjang
pendidikan tsanawiyah (menengah tingkat pertama) maupun jenjang ‘aliyah
(menengah tingkat atas). Sekolah ini telah mendidiknya jiwa patriot, cinta tanah
air yang kuat, dan menanamkan nasionalisme yang mendasar. Ia kemudian
melanjutkan pendidikannya di al-Jami‘ah al-Qism Adabul Lughah wa Tarikh
al-Islamiyah (Perguruan Tinggi Islam, Jurusan Sastra dan Kebudayaan Islam) di
Padang. Sekembalinya dari Padang Panjang dan Padang, A. Hasjmy menjadi guru dan
pendidik di Aceh. Ketika umurnya menginjak usia 50-an, ia pernah mengikuti
kuliah pada Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara,
Medan.

Pada masa mudanya, A. Hasjmy
dikenal sangat aktif ikut serta dalam berbagai kegiatan organisasi kepemudaan.
Tercatat, antara tahun 1932 hingga tahun 1935, ia menjadi anggota Himpunan
Pemuda Islam Indonesia (HPII), dan antara tahun 1933 hingga tahun 1935 ia
menjadi Sekretaris HPII Cabang Padang Panjang. HPII merupakan sebuah organisasi
underbow partai politik Permi (Persatuan Muslimin Indonesia), sebuah
partai radikal yang menganut sistem nonkooperasi terhadap pemerintahan Hindia
Belanda.

Pada tahun 1935, A. Hasjmy
mendirikan Sepia (Serikat Pemuda Islam Aceh) bersama dengan sejumlah pemuda yang
baru pulang dari Padang. Sepia kemudian berubah menjadi Peramiindo (Pergerakan
Angkatan Muda Islam Indonesia), dan ia menjadi salah seorang pengurus besarnya.
Paramiindo merupakan organisasi kepemudaan radikal yang giat melakukan gerakan politik untuk menentang penjajahan Belanda.

Sejak tahun 1939, A. Hasjmy aktif
sebagai anggota Pengurus Pemuda PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh), Aceh Besar,
serta menjadi Wakil Kwartir Kepanduan KI (Kasysyafatul Islam) Aceh Besar. PUSA
merupakan organisasi non-partai politik yang kegiatannya lebih pada gerakan
menentang penjajahan Belanda. Pada tahun 1941, bersama sejumlah teman di PUSA,
ia mendirikan suatu gerakan rahasia bawah tanah, yaitu Gerakan Fajar. Tujuan
gerakan ini mengorganisir pemberontakan terhadap kolonialisme Belanda. Sejak
awal tahun 1942, gerakan ini melakukan kegiatan sabotase di seluruh Aceh, bahkan
dengan cara perlawanan fisik. A. Hasjmy ikut memimpin kegiatan pemberontakan
ini. Karena keterlibatan itu, ayahnya, Teungku Hasjim ditangkap Belanda dan baru
bisa bebas setelah Belanda meninggalkan Aceh.

Pada awal tahun 1945, bersama
sejumlah pemuda yang bekerja pada Kantor Aceh Sinbun dan Domei, A. Hasjmy
mendirikan organisasi IPI (Ikatan Pemuda Indonesia), suatu organisasi rahasia
yang bertujuan melakukan persiapan untuk melawan kekuasaan Belanda yang pada
saat itu kembali ke Aceh karena kekalahan Jepang pada tanggal 14 Agustus 1945.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) pada tanggal 17 Agustus
1945, IPI aktif melakukan gerakan secara terang-terangan terhadap para pemuda
untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Lambat laun, IPI berubah menjadi BPI
(Barisan Pemuda Indonesia), dan kemudian berubah lagi menjadi PRI (Pemuda
Republik Indonesia, dan akhirnya menjadi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia).
Dalam perkembangan selanjutnya, Pesindo Aceh memisahkan diri dari DPP Pesindo
karena pada saat itu DPP telah dipengaruhi oleh ideologi Partai Komunis
Indonesia (PKI). Pesindo Aceh berdiri sendiri dengan menjadikan Islam sebagai
dasarnya. Organisasi ini mendirikan sebuah divisi laskar bernama Divisi Rencong.
Sejak masih di IPI hingga di divisi ini, A. Hasjmy bertindak sebagai
pemimpinnya.

A. Hasjmy pernah juga aktif di
sejumlah partai politik lain, yaitu Permi (Persatuan Muslim Indonesia) dan PSII
(Partai Syarikat Islam Indonesia). Ketika masih di Aceh, ia pernah menjadi Ketua
Dewan Pimpinan Wilayah PSII. Ia bahkan
pernah ditahan dalam penjara Jalan
Listrik, Medan, dalam kurun waktu September 1953 sampai Mei 1954 karena dituduh
terlibat dalam pemberontakan Daud Beuereueh di Aceh.
Ketika pindah ke Jakarta, ia
menjadi Ketua Departemen Sosial Lajnah Tanfiziyah DPP PSII.
   

Selain aktif di berbagai kegiatan
organisasi, A. Hasjmy juga aktif memegang sejumlah jabatan pemerintahan. Pada
masa awal Indonesia merdeka, ia aktif sebagai pegawai negeri dan memegang
jabatan-jabatan sebagai berikut: Kepala Jawatan Sosial Daerah Aceh, Kutaraja
(1946-1947); Kepala Jawatan Sosial Sumatera Utara (1949); Inspektur Kepala
Jawatan Sosial Sumatera Utara (1949); Inspektur Kepala Jawatan Sosial Provinsi
Aceh (1950); Kepala Bagian Umum pada Jawatan Bimbingan dan Perbaikan Sosial
Kementerian Sosial di Jakarta (1957); Gubernur Aceh (1957-1964); dan
diperbantukan sebagai Menteri Dalam Negeri (1964-1968). Pada tahun 1966, ia
pensiun dari pegawai negeri sebelum masanya (52 tahun) karena atas permintaannya
sendiri.

Penunjukan A. Hasjmy sebagai
Gubernur Aceh disebabkan karena pada saat itu Aceh sedang dalam masa krisis, di
mana sering terjadi konflik bersaudara. Masyarakat Aceh menilai penunjukan
dirinya tepat, terbukti ia berhasil memulihkan keamanan Aceh pada saat itu.
Apalagi, sejak masa pemulihan itu, ia beserta beberapa kawan seperjuangannya
mulai memikirkan dan memusatkan perhatian pada pengembangan dunia pendidikan di
berbagai wilayah di Aceh. Pengabdiannya terhadap dunia pendidikan berhasil
mengangkat Aceh sebagai Kopelma (Kota Pelajar dan Mahasiswa) Darussalam. Kopelma
merupakan pusat pendidikan untuk tingkat provinsi (Aceh). Di Aceh terdapat dua
buah perguruan tinggi yang terkenal, yaitu Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Di samping itu, berdiri
sejumlah perkampungan pelajar di beberapa kabupaten dan juga berdiri sejumlah
taman pelajar di beberapa kecamatan di seluruh Aceh (yang kini bernama Pusat
Pendidikan Tinggi Darussalam Mini).

Setelah tidak lagi memegang jabatan
pemerintahan, A. Hasjmy kemudian aktif dalam berbagai kegiatan intelektual. Ia
diangkat sebagai Dekan Fakultas Dakwah (Publisistik) IAIN Ar-Raniry Banda Aceh
pada tahun 1968. Ia diangkat dan dikukuhkan sebagai Guru Besar (Prof) dalam ilmu
dakwah di IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, pada tahun 1976. Ia kemudian menjabat
sebagai Rektor IAIN Ar-Raniry sejak tahun 1977 hingga November
1982.

A. Hasjmy sebenarnya juga pernah
memegang sejumlah jabatan non-birokratis lainnya, baik di pemerintahan maupun di
pendidikan, yaitu: Anggota Badan Pekerja Dewan Perwakilan Rakyat Aceh
(1946-1947); Anggota Staf Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo (1947);
Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (1949); Pimpinan Kursus Karang Mengarang
di Kutaraja dan menjadi staf pengajarnya juga (1947-1948 dan 1950-1951); Ketua
II Panitia Persiapan Universitas Sumatera Utara (USU), Medan (1957); Wakil Ketua
Umum Panitia Persiapan Fakultas Ekonomi Negeri Kutaraja (1958); Ketua Umum
Panitia Persiapan Pendirian Fakultas Agama Islam Negeri, Kutaraja (1959);
Anggota Pengurus Besar Front Nasional (1960); Ketua Umum Panitia Persiapan
Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry (1960); Ketua Umum Panitia Persiapan
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) (1960); Ketua DPR-GR Daerah Istimewa Aceh
(1961); Ketua Dewan Kurator Universitas Syiah Kuala (1962-1964); Pimpinan Umum
Harian Nusa Putra dan Staf Redaksi Harian Karya Bhakti di Jakarta (1964-1965);
Anggota MPRS Golongan B (wakil Daerah Istimewa Aceh) (1967); menjadi dosen mata
kuliah Sejarah Kebudayaan Islam dan Ilmu Dakwah pada beberapa fakultas di
Kopelma Darussalam (sejak tahun 1967); Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Provinsi Daerah Aceh (sejak tahun 1969); Ketua Umum MUI Provinsi Daerah Istimewa
Aceh (sejak tahun 1982); Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat (sejak berdirinya
lembaga ini); Ketua Umum LAKA (Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh) (sejak
berdirinya lembaga ini); Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Daerah Istimewa Aceh
(sejak berdirinya lembaga ini); dan Anggota Dewan Penasehat ICMI (Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia) Pusat.  

Ketika tidak aktif di pemerintahan
dan hanya aktif di dunia pendidikan, telah puluhan kali A. Hasjmy menyampaikan
makalah dalam berbagai kesempatan seminar, lokakarya, simposium, konferensi, dan
muktamar, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebagai bentuk apresiasi
dirinya terhadap pengembangan keilmuan, ia mendirikan Yayasan Pendidikan Ali
Hasjmy pada awal tahun 1989. Pada tahun 1990, atas persetujuan istrinya dan
semua putra-putrinya, ia mewakafkan kepada yayasan tersebut berupa tanah seluas
hampir 3.000 m2, rumahnya, buku-buku lebih dari 15.000 jilid, naskah-naskah tua,
album-album foto bernilai sejarah dan budaya, dan masih banyak sekali benda
budaya lainnya. Semua barang miliknya dijadikan koleksi Perpustakaan dan Museum
Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy. Pada tanggal 15 Januari 1991, perpustakaan dan
museum ini diresmikan oleh Prof. Dr. Emil Salim, Menteri Negara Urusan
Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada saat itu.

2.
Pemikiran

A. Hasjmy merupakan tokoh besar
Aceh yang memiliki pemikiran multi-dimensi. Ia dikenal sebagai ulama, politisi,
sastrawan, dan juga sekaligus budayawan. Berikut ini dikemukakan sejumlah butir
pemikirannya yang dikelompokkan dalam beberapa bidang
pemikiran.

2. 1. Pemikiran Politik
Kebangsaan

A. Hasjmy mempunyai jiwa
nasionalisme dan patriotisme yang sungguh besar. Hal ini dibuktikan dengan
perannya dalam mempengaruhi pemerintah RI pusat agar mau melepaskan Aceh dari
“kungkungan” Provinsi Sumatera Utara dan berdiri sendiri sebagai sebuah
provinsi. Pada tanggal 1 Januari 1957, usahanya berhasil mendapat persetujuan
dari Presiden Soekarno, Presiden RI Pertama.

Oleh Kabinet Ali Sastroamidjoyo
ke-2, A. Hasjmy diminta menjabat sebagai Gubernur Aceh yang pertama kali (1957).
Tugasnya yang paling pokok adalah menyusun pemerintahan daerah dan memulihkan
keamanan. Ia pernah berhasil mengatasi pemberontakan Darul Islam dengan cara
damai. Hal itu ia lakukan menjelang Dekrit Presiden 5 Juli 1959 (untuk kembali
ke UUD 1945 dengan dasar Pancasila), tepatnya ketika Sidang Istimewa Kabinet
Karya dilakukan pada permulaan bulan Mei 1959. Sidang ini secara khusus membahas
tentang penyelesaian pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).
Sidang ini dipimpin oleh Perdana Menteri Ir. H. Juanda, yang juga dihadiri oleh
sejumlah pejabat negara, termasuk Panglima Kodam I Kolonel Sjamaun Gaharu dan
Gubernur Aceh A. Hasjmy.

Dalam sidang itu, A. Hasjmy
memberikan penjelasan tentang perjuangan rakyat dalam menegakkan dan
mempertahankan NKRI sejak masa Revolusi 1945 sampai Konferensi Meja Bundar (KMB)
di Den Haag, Belanda. Ia mengajak Darul Islam agar kembali ke pangkuan NKRI
dengan cara memberikan status keistimewaan pada Provinsi Aceh. Makna
keistimewaan berarti memperkokoh NKRI yang berpedoman pada Pancasila, dengan
tetap memperhatikan kekhususan dan kekhasan sejarah sosial-budaya Aceh yang
memang banyak didasarkan pada ajaran Islam.

A. Hasjmy berpandangan bahwa
realitas budaya Aceh yang sangat khas dan bernafaskan Islam tidak menghalangi
penerimaan masyarakat Aceh terhadap Pancasila. Menurutnya, Pancasila merupakan
pedoman hidup nasionalisme yang tetap memperhatikan religiusitas dan monoteisme.
Dengan demikian, nafas dan nyawa masyarakat Aceh adalah sama dengan struktur dan
kultur seluruh bangsa Indonesia dalam bingkai Pancasila itu sendiri. Sehingga,
masyarakat Aceh tidak perlu alergi terhadap Pancasila.

Sebagai tindak lanjut dari Sidang
Istimewa Kabinet Karya, PM Juanda memberitahukan kepada A. Hasjmy bahwa Kabinet
Karya akan mengirimkan Misi Pemerintah ke Aceh di bawah pimpinan Wakil Perdana
Menteri II Idham Chalid. A. Hasjmy menolak penunjukkan itu dengan mengusulkan
agar yang memimpin misi pemerintah tersebut adalah Mr. Hardi, Wakil Perdana
Menteri I pada Kabinet Karya. Padahal, Mr. Hardi merupakan tokoh nasionalis
(anggota DPP PNI/Partai Nasionalis Indonesia), berbeda dengan Idham Chalid yang
jelas-jelas berasal dari kelompok Islam karena ia seorang ulama (Nahdhatul
Ulama/NU) terkenal pada saat itu. Ketika ditanya oleh PM. Juanda tentang apa
alasan A. Hasjmy lebih suka menunjuk Mr. Hardi daripada Idham Chalid, A. Hasjmy
menjawab dengan lugas: “NU, partainya Pak Idham Chalid sudah sejak semula
mendukung kebijaksanaan pemulihan keamanan di Aceh; sementara PNI semenjak Mr.
Ali Sastroamidjojo memimpin kabinet terus menentang penyelesaian dengan cara
bijaksana. Kalau Wakil PM Idham Chalid yang memimpin misi, besar sekali
kemungkinan PNI tidak akan menyetujui hasil-hasil yang dicapai misi. Lain
halnya, kalau orangnya sendiri yang memimpin misi, yaitu Wakil PM Mr.
Hardi
”.

A. Hasjmy memiliki pemikiran yang
strategis terhadap pemulihan kondisi di Aceh secara damai. Ia tidak
memperdulikan apakah yang memegang amanat misi pemerintah itu harus berasal dari
kelompok Islam atau tidak, mengingat Aceh begitu kental dengan nuansa
keagamaannya. Ia berpikir bahwa kelompok yang selama ini kontra (kelompok
nasionalis) justru perlu dirangkul dengan menjadikan salah satu tokohnya sebagai
pemimpin misi pemerintah ke Aceh (Mr. Hardi). Maka, dengan cara seperti ini
kepentingan semua kelompok dapat diakomodir, tidak hanya satu kelompok saja.
Berdasarkan pemikiran semacam itu, A. Hasjmy merupakan tokoh politisi yang mau
bersikap terbuka dengan menerima berbagai perbedaan yang
ada.

2. 2. Pemikiran Kebudayaan
dan Keagamaan  

Pemikiran keagamaan A. Hasjmy
banyak berhubungan dengan kondisi Aceh yang selama ini dikenal sangat kental
dengan nuansa keislamannya, dalam sistem sosial, politik, dan kehidupan
keberagamaannya. Pada tahun 1990, ia menjabat sebagai Ketua LAKA (Lembaga Adat
dan Kebudayaan Aceh).

LAKA didirikan untuk meningkatkan
peran, fungsi, dan sistem lembaga adat dan kebudayaan agar sesuai dengan
pertumbuhan dan perkembangan ketatanegaraan Republik Indonesia. Rumusan tujuan
LAKA sudah tercermin dalam UUD 1945 pasal 32 yang berbunyi: “Pemerintah
memajukan kebudayaan nasional”.
Dalam Penjelasan UUD 1945 tentang pasal 32
dinyatakan bahwa “Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah
usaha budi-daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang
terdapat sebagai puncak kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia,
terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus melaju ke arah
kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari
kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan dan memperkaya kebudayaan bangsa
sendiri, serta mempertinggi derajat kemauan bangsa
Indonesia
”.

Di bawah kepemimpinan A. Hasjmy,
LAKA banyak melakukan kegiatan-kegiatan pelestarian adat dan kebudayaan Aceh. Di
samping itu, lembaga ini juga menyegarkan adat dan kebudayaan tersebut dengan
mengintrodusir pengaruh-pengaruh positif dari adat dan kebudayaan lain (di luar
Aceh). Apa yang dilakukan A. Hasjmy bersama lembaganya itu tiada lain
mencerminkan jiwa nasionalisme Indonesia yang tidak sempit, dengan tetap
mengakar kepada adat dan kebudayaan Aceh.

Jika kita menelisik pemikiran A.
Hasjmy secara seksama, maka akan terlihat progresivitas dalam berbagai
pemikirannya. Ia pernah mengatakan bahwa penerapan syariat Islam di Aceh tidak
perlu dipahami secara eksklusif karena pada dasarnya umat manusia diberikan
kebebasan untuk memilih Islam. Tentang hal ini, ia mengatakan: “Islam tidak
memaksa. Anda dengan rela memilih Islam, kita menerimanya, Aceh selalu
terbuka!
” Artinya, Islam adalah agama yang tidak memaksa. Islam adalah agama
yang menyeru kepada kebaikan, sehingga umat manusia dapat menerimanya atau tidak
menerimanya. Hanya saja, memang orang yang dapat menerima Islam sebagai pedoman
hidup merupakan orang yang tepat karena telah menjadikan agama ini sebagai
pedoman jalan hidupnya.

Islam dan adat dalam kehidupan
sosial-kebudayaan Aceh seakan-akan tidak dapat dipisahkan karena keduanya ibarat
dua sisi mata uang yang saling menyatu. Kaitan erat keduanya, misalnya dapat
terlihat pada kesenian atau kerajinan tangan Aceh yang banyak merujuk pada
simbol-simbol keislaman. Segala sesuatu hal yang berbau kesenian atau keindahan
tidak bisa dianggap sebagai sesuatu di luar agama. Tentang hal ini, A. Hasjmy
pernah berujar: “Kita tidak menolak hal-hal yang membawa kesan keindahan,
kerajinan, dan ketenangan. Seni itu indah, ia dilahirkan oleh dasar keinsafan
dan kemuliaan
”. Maka, tidak aneh jika ternyata kesenian dan kerajinan tangan
Aceh terus berkembang.

A. Hasjmy dikenal sebagai ulama
yang berpenampilan sangat sederhana. Sehari-harinya ia mengenakan kopiah yang
rapi dengan motif yang sering berbeda-beda. Ia memang dikenal sangat bangga
mengenakan pakaian adat Aceh dalam kehidupan sehari-harinya. Ada makna apa di
balik baju Aceh itu? Ternyata, di balik itu ada makna budaya yang sangat
mendalam. Konon, pakaian adat Aceh memberikan getaran semangat kepada si
pemakainya. Jika dilihat dari sudut pandang budaya Islami, kemungkinan ia sedang
menerjemahkan berbagai bentuk budaya Islami dalam model budaya keacehan. Ia
sedang melakukan “pribumisasi” atau “kontekstualisasi” terhadap budaya Islami
yang ketika itu memang lebih dahulu berkembang di berbagai pelosok dunia. 

2. 3. Pemikiran
Pendidikan

Pada masa awal kemerdekaan, tingkat
pendidikan di Aceh masih sangat rendah. Hal itu memang telah disengaja oleh
Belanda agar mereka lebih dapat berkuasa dan menjajah Aceh dalam waktu yang
cukup lama. Ketika A. Hasjmy menjadi Gubernur Aceh banyak hal yang berhasil
dilakukannya, termasuk dalam bidang pendidikan.

Kecintaan A. Hasjmy terhadap dunia
pendidikan tidak dapat disangsikan lagi. Ia sangat mementingkan pendidikan dalam
hidupnya. Bahkan, ia sering menasehati generasi muda agar memperhatikan
pendidikan sebagai modal penting dalam hidup ini. Kecintaannya terhadap
pendidikan tersebut dilukiskan dalam syairnya berikut ini:

Memetik
bakti

Sungguh berat tanggungan
pemuda

Pelindung umat harapan
bangsa

Karena itu wahai
pemudaku

Berkemaslah saudara siapkan
diri

Penuhkan dadamu dengan
ilmu

Ajarkan hati bercita
tinggi

 
Biarkan kita miskin
harta

Asal ruhani kaya
raya

 Janganlah saudara
beriba hati

Karena papa tiada
beruang

Apa guna kaya
jasmani

Kalau jiwa bernasib
malang

 
Ingatlah wahai pemudaku
sayang

Bunda tiada mengharapkan
uang

Beliau menanti sembahan
suci

Dari puteranya pemuda
baru

Mari saudaraku memetik
bakti

Kita persembahkan kepada
ibu


(Dewan Sajak,
1938)

Ketika menjabat sebagai gubernur,
A. Hasjmy berpikir bahwa tugas atau program pokok pemerintahannya adalah
meningkatkan pendidikan rakyat. Sebagai implementasi dari program ini, maka
muncul apa yang disebut sebagai gerakan “Konsepsi Pendidikan Darussalam”. Tujuan
dari gerakan ini adalah untuk melahirkan manusia Pancasila yang berjiwa benar,
berpengetahuan luas, dan berbudi luhur.

Untuk mencapai tujuan tersebut,
maka pada tahap awal direncanakan pembangunan pusat-pusat pendidikan pada: (a).
Tiap-tiap ibukota kecamatan yang dinamakan Taman Pelajar, yang mencakup di
dalamnya: Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, guru,
asrama pelajar, dan sebagainya; (b). Tiap-tiap ibukota kabupaten yang dinamakan
Perkampungan Pelajar, mencakup di dalamnya: Sekolah Menengah Pertama, Sekolah
Menengah Atas, rumah guru, asrama pelajar, dan sebagainya; (c). Di ibukota
Daerah Istimewa Aceh yang dinamakan Kota Pelajar/Mahasiswa Darussalam, mencakup
di dalamnya: sekolah lanjutan atas dan berbagai lembaga pendidikan
tinggi.

Dalam waktu yang relatif singkat,
program pembangunan Kota Pelajar/Mahasiswa Darussalam atau yang lebih dikenal
Kopelma Darussalam benar-benar terwujud. Di Aceh, berdiri dua universitas besar
kenamaan, yaitu Universitas Syiah Kuala dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Jami‘ah Ar-Raniry. Universitas yang pertama dikenal sebagai pusat pendidikan
tinggi yang bersifat umum, sedangkan universitas yang kedua dikenal sebagai
pusatnya kajian keagamaan, khususnya Islam.

Program pembangunan pendidikan
tersebut masih dilanjutkan dan dikembangkan oleh generasi pasca-A. Hasjmy,
bahkan hingga kini. Pembangunan sumberdaya manusia di Aceh telah mendapatkan
dasar-dasar pemikirannya melalui para tokoh pembaharu pendidikan pada masa lalu,
terutama melalui pembentukan sejumlah universitas di sana. Dengan demikian,
hasil pembangunan yang sekarang diraih merupakan buah dari pohon yang telah
ditanam dalam kepemimpinan masa lalu. Dalam hal ini, A. Hasjmy ikut
berkontribusi penting karena telah membuat Pola Dasar Pembangunan Lima Tahun
yang pertama atau disebut dengan sebutan “Aceh Membangun”, yang ditetapkan
dengan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh No. 19/1962 tanggal
17 Januari 1962.

Landasan dari konsep “Aceh
Membangun” adalah cita-cita dan kepribadian rakyat Aceh sebagaimana dinyatakan
di dalam Piagam Pancacita. Penyusunan konsep ini dilakukan oleh sebuah komisi
yang dibentuk secara resmi melalui keputusan Gubernur Kepala Daerah Aceh. Untuk
mengimplementasikannya, maka pada setiap tahunnya konsep ini dijabarkan secara
rinci sehingga menjadi jelas dalam proses pelaksanaannya.

A. Hasjmy pernah mengeluarkan
Keputusan No. 90 Tahun 1960 yang menetapkan tanggal 2 September sebagai Hari
Pendidikan Daerah Istimewa Aceh. Hal itu dilakukan untuk memajukan pendidikan di
Aceh. Dalam rangka Hari Pendidikan Daerah itu dibuatkan piala bergilir yang
diperebutkan setiap tahunnya. Ketika itu juga diciptakan dua lagu mars, yaitu
Mars Hari Pendidikan dan Mars Darussalam. Kedua lagu wajib itu
harus dinyanyikan para murid sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Daerah
Istimewa Aceh.

Pasca-kepemimpinan A. Hasjmy,
pembangunan pendidikan di Aceh masih terus berjalan dengan sistem yang
terintegrasi secara baik. Generasi muda setelahnya dengan mudah meneruskan
kegiatan-kegiatan pendidikan karena generasi sebelumnya telah memberikan panduan
yang komprehensif tentang konsep pembangunan pendidikan.

Pada tanggal 13 Mei 1967, Gubernur
Kepala Daerah Daerah Istimewa Aceh ketika itu melalui suratnya No. 27/1967
menetapkan bahwa tugas pengawasan dan pembangunan Kopelma Darussalam diserahkan
kepada Yayasan Pembangunan Darussalam (YPD). Ketika itu, A. Hasjmy menjabat
sebagai Ketua YPD. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pembangunan Kopelma
Darussalam yang telah dirintis sejak tahun 1958 masih berjalan.
  

2. 4. Pemikiran
Kesusastraan

A. Hasjmy memberi kontribusi yang
sangat besar terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia. Ia juga pernah
membina cikal bakal pengembangan jurnalisme tanah air, terutama di Aceh, sejak
sebelum Perang Dunia Kedua. Ia memulai kiprah dalam bidang penulisan sastra
sejak usia 16 tahun. Sejak saat itu, ia aktif menulis prosa, roman, esai, puisi,
dan karangan ilmiah.  

A. Hasjmy merupakan pengamat teks
Melayu klasik. Pada masanya, Aceh memang dikenal melahirkan banyak pengarang
kesusastraan, baik dalam bahasa Aceh, bahasa Melayu, dan bahasa Arab. A. Hasjmy
banyak menggunakan teks-teks dari ketiga bahasa itu untuk memperkuat bukti-bukti
sejarah pada setiap karya yang ditulisnya. Di antara teks-teks yang dimaksud
adalah Sufinat al-Hukkam, Hikayat Malem Dagang, Syarah Rubai
Hamzah Fansuri
, Idharul Haaq, Hikayat Putra Nurul A‘la,
Hikayat Perang Sabi, Qanun al-Asyi, Hikayat Pocut Muhammad,
dan lain-lain.  

2. 4. 1. Sastra
Perjuangan

Salah satu karya sastra A. Hasjmy
yang menggunakan salah satu dari teks-teks tersebut adalah Hikayat Perang
Sabil: Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda
(Banda Aceh: Firma Pustaka Faraby,
1971). Buku tersebut mendasari sepenuhnya pemikiran dan latar belakang sejarah
dalam karya klasik Teungku Chik Pante Kulu, Hikayat Prang Sabi, yang
ditulis pada masa penjajahan Belanda di bumi Aceh (1873-1888). Menurut sejumlah
sumber, A. Hasjmy melakukan penambahan terhadap isi karya Teungku Chik Pante
Kulu dan kemudian menerbitkannya ulang.

Syair-syair dalam buku A. Hasjmy
itu pernah digunakan dalam sebuah tuntutan referedum mayarakat Aceh pada tanggal
8 November 1999. Sekitar dua juta masyarakat Aceh memadati Masjid Raya
Baiturrahman, Banda Aceh. Tidak henti-hentinya massa meneriakkan tuntutan
referendum sembari membacakan syair-syair dalam buku A. Hasjmy tersebut. 

A. Hasjmy dikenal sebagai sastrawan
angkatan Pujangga Baru. Buku Hikayat Perang Sabil terkait dengan masa
penjajahan Belanda. Pada bagian mukadimah buku ini terdapat puji-pujian kepada
Allah SWT yang kemudian dilanjutkan dengan seruan untuk melakukan Perang Sabil.
Disebutkan bahwa barangsiapa yang mau berjihad dalam perang sabil, maka akan
mendapatkan pahala. Salah satu bentuk pahala yang dimaksud bahwa mereka akan
bertemu dengan dara-dara dari surga.

Buku ini memuat empat kisah
penting, yaitu Kisah Ainul Mardliyah, Kisah Pasukan Gajah, Kisah Said Salmy, dan
Kisah Budak Mati Hidup Kembali. Di antara empat kisah ini, Kisah Pasukan Gajah
merupakan satu-satunya kisah yang bersumber dari ajaran Islam. Inti dari
keseluruhan kisah tersebut adalah memberikan pengertian kepada para pembaca
bahwa berjuang atau berperang melawan musuh (penjajah Belanda) merupakan suatu
ibadah dan kesyahidan yang akan mendatangkan pahala di akhirat
kelak.

Kisah Ainul Mardliyah bercerita
tentang penyambutan ratu bidadari surgawi bagi mereka yang mati syahid.
Dikisahkan, ketika hendak berperang ada seorang pemuda bernama Muda Belia yang
bermimpi bahwa dirinya di surga dan bertemu ratu bidadari surgawi bernama Ainul
Mardliyah. Sang ratu menolak cinta pemuda itu karena yang hanya dicintainya
adalah seseorang yang mau mati syahid. Maka, Muda Belia berperang melawan
musuh-musuh hingga akhirnya ia mati syahid.

Kisah Pasukan Gajah bercerita
tentang kegagalan serangan sebuah pasukan besar untuk menghancurkan Kabah di
Mekkah pada tahun 570 M. Kerajaan Habsjah dan Kerajaan Parsia Majusi pernah
menyerang Mekkah dengan pasukan berkendaraan gajah. Namun, ternyata mereka
justru diserang oleh suatu wabah penyakit yang menyebabkan pasukan tersebut
kocar-kacir berlarian untuk menyelamatkan diri. Sedangkan Kisah Said
Salmy dan Kisah Budak Mati Hidup Kembali sebenarnya sama saja dengan Kisah Ainul
Mardliyah, yaitu tentang mati syahid dan pahala bagi yang
melakukannya.

Berdasarkan paparan isi singkat
buku Hikayat Perang Sabil, pemikiran A. Hasjmy terlihat bermuatan tentang
pergerakan kepada masyarakat tanah air, terutama masyarakat Aceh untuk berjuang
melawan penjajahan musuh, di antaranya Belanda. Maka, tidak aneh jika masyarakat
Aceh yang menuntut referendum di Masjid Baiturrahman Banda Aceh membacakan
syair-syair buku itu sebagai salah satu sumber kekuatan untuk menyemangati
harapan dan perjuangan mereka.

Ada satu sajak karya A. Hasjmy yang
menggambarkan betapa perjuangan melawan penindasan dan penjajahan Belanda perlu
dilandasi dengan kesabaran dan ketabahan hati yang sangat
kuat.

Sungguhpun godaan datang
berpalun,

Setiap saat gelombang
menyerang,

Namun imanku tidak kan
goyang.

 
Biarpun cobaan datang
beruntun,

Hatiku tetap bagai
semula,

Rela badan jadi
binasa.

Sajak di atas dibuat A. Hasjmy pada
tahun 1936 yang menunjukkan betapa kegigihan dan ketabahan dirinya ketika masih
muda. Ia merupakan salah satu tokoh puncak Aceh yang pernah melakukan perjuangan
fisik bersama tokoh-tokoh lainnya dalam mempertahankan kemerdekaan. Ia bergabung
dalam kesatuan laskar bersenjata Divisi Rencong.

2. 4. 2. Sastra
Praksis

A. Hasymi memiliki perasaan iba
terhadap nasib rakyat bawah. Hal itu diekspresikan dalam sejumlah sajak-sajak
yang ditulisnya. Perasaan dan sentuhan emosionalnya dalam menangkap jeritan
rakyat kecil di lingkungannya telah membangkitkan refleksi dirinya terhadap apa
yang disebut sebagai sastra praksis (pembebasan). Ada salah satu sajaknya yang
merefleksikan hal ini:

Beri Hamba sedekah, o
toean,

Beloem makan dari
pagi,

Tolonglah patik, wahai
toean,

Setegoek air, sesoeap
nasi.

 
Lihatlah, toean nasib
kami,

Tiada sanak tiada
saudara,

Pakaian di badan tidak
terbeli,

Sepandjang djalan
meminta-minta,

Lihatlah, toean, oentoeng
kami,

Pondok tiada, hoema
tiada,

Bermandi hoedjan, berpanas
hari,

Di tengah djalan
terloenta-loenta.

 
Boekan salah boenda
mengandoeng,

Boeroek soeratan tangan
sendiri,

Soedah nasib, soedah
oentoeng,

Hidoep malang hari ke
hari.

 
O, toean djangan kami
ditjibirkan,

Djika sedekah tidak
diberi,

Tjoekoep soedah sengsara
badan,

Djangan lagi ditoesoek hati…

(Dewan Sajak,
1938)

Sajak di atas menunjukkan bahwa
sejak muda A. Hasjmy tidak hanya menempatkan dirinya di barisan orang-orang
penting, tetapi ia juga ikut merasakan bagaimana nasib rakyat jelata. Ia tidak
mau terlena dengan kehidupan kaum elit yang memanjakan kesenangan dan
kebahagiaan, namun tidak peka terhadap kondisi kemiskinan di sekelilingnya. Ia
justru melihat bahwa isu-isu kemiskinan dan ketertindasan sebagai masalah yang
harus segera dipecahkan.  

3. Karya

Karya-karya A. Hasjmy sangat
banyak, di antaranya sebagai berikut:

3. 1. Karya di Bidang
Sastra

  1. Kisah Seorang
    Pengembara

    (sajak), (Medan: Pustaka Islam, 1936)
  2. Sayap
    Terkulai

    (roman perjuangan), 1983, tidak terbit, naskahnya hilang di Balai Pustaka waktu
    pendudukan Jepang.
  3. Dewan
    Sajak
    (puisi), Medan: Centrale Courant,
    1938
    .
  4. Bermandi
    Cahaya Bulan
    (roman pergerakan), Medan:
    Indische Drukkrij, 1939; Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
  5. Melalui Jalan
    Raya Dunia

    (roman masyarakat), Medan: Indische Drukkrij, 1939; Jakarta: Bulan Bintang,
    1978.
  6. Suara Azan dan
    Lonceng Gereja
    (roman antar agama), Medan:
    Syarikat Tapanuli, 1940; Jakarta: Bulan Bintang, 1978; Singapura: Pustaka
    Nasional, 1982.
  7. Cinta
    Mendaki

    (roman filsafat/perjuangan), naskah ini hilang pada Balai Pustaka, Jakarta pada
    saat pendudukan Jepang.
  8. Dewi
    Fajar

    (roman politik), Banda Aceh: Aceh Sinbun, 1943. 
  9. Rindu
    Bahagia

    (kumpulan sajak dan cerpen), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande,
    1963.
  10. Jalan
    Kembali

    (sajak bernafaskan Islam), Banda Aceh: Pustaka Putro Cande, 1963 (telah
    diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Hafiz Arif (Harry
    Aveling).
  11. Semangat
    Kemerdekaan dalam Sajak Indonesia Baru
    (analisa sastra), Banda Aceh:
    Pustaka Putro Cande, 1963.
  12. Hikayat Perang
    Sabil: Menjiwai Perang Aceh Lawan Belanda
    , Banda Aceh: Firma Pustaka Faraby,
    1971.
  13. Ruba‘i Hamzah
    Fansury, Karya Sastra Sufi Abad XVII
    , Kuala Lumpur, Dewan Bahasa dan
    Pustaka, 1974.
  14. Sumbangan
    Kesusasteraan Aceh dalam Pembinaan Kesusasteraan Indonesia
    , Jakarta: Bulan Bintang,
    1977.
  15. Tanah
    Merah

    (roman perjuangan), Jakarta: Bulan Bintang, 1977
  16. Meurah
    Johan

    (roman sejarah Islam di Aceh), Jakarta: Bulan Bintang, 1950.
  17. Sastra dan
    Agama
    ,
    Banda Aceh: BHA Mejelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, 1980.
  18. Apa Tugas
    Sastrawan Sebagai Khalifah Allah
    , Surabaya: Bina Ilmu,
    1984.
  19. Kebudayaan
    Aceh dalam Sejarah
    , Jakarta: Penerbit Beuna,
    1983.
  20. Hikayat Pocut
    Muhammad dalam Analisa
    , Jakarta: Penerbit Beuna,
    1983.
  21. Kesasteraan
    Indonesia dari Zaman ke Zaman
    , Jakarta: Penerbit Beuna,
    1983.
  22. Sejarah
    Kesusasteraan Islam Arab
    (tidak
    diterbitkan)

3. 2. Karya di Bidang
Sejarah dan Agama

  1. Kerajaan Saudi
    Arabia

    (riwayat perjalanan), Jakarta: Bulan Bintang, 1957.
  2. Pahlawan-pahlawan Islam yang
    Gugur

    (saduran dari bahasa Arab), Jakarta: Bulan Bintang, 1981, cet. IV; Singapura:
    Pustaka Nasional, 1971 dan 1982 (cet. IV).
  3. Sejarah
    Kebudayaan dan Tamaddun Islam
    , Banda Aceh: Lembaga Penerbit IAIN
    Jami‘ah Ar-Raniry, 1969.
  4. Yahudi Bangsa
    Terkutuk
    ,
    Banda Aceh: Pustaka Faraby, 1970. 
  5. Islam dan Ilmu
    Pengetahuan Moderen
    (terjemahan dari bahasa Arab),
    Singapura: Pustaka Nasional, 1972. 
  6. Dustur Dakwah
    Menurut Al-Qur‘an
    , Jakarta: Bulan Bintang, 1974 dan
    1994 (cet. III).
  7. Sejarah
    Kebudayaan Islam
    , Jakarta: Bulan Bintang, 1975 dan
    1993 (cet. V).
  8. Cahaya
    Kebenaran (Terjemahan Al-Qur‘an, Juz Amma)
    , Jakarta: Bulan Bintang, 1979;
    Singapura: Pustaka Nasional, tahun belum diketahui datanya.
  9. Iskandar Muda
    Meukuta Alam: Sejarah Hidup Sultan Iskandar Muda, Sultan Aceh
    Terbesar
    ,
    Jakarta: Bulan Bintang, 1977.
  10. Surat-surat
    dari Penjara
    (catatan sewaktu ia dalam penjara
    berupa surat-surat kepada anak-anaknya kurun waktu tahun 1953-1954), Jakarta:
    Bulan Bintang, 1978.
  11. Peranan Islam
    dalam Perang Aceh
    , Jakarta: Bulan Bintang,
    1978.
  12. 59 Tahun Aceh
    Merdeka di Bawah Pemerintahan Ratu
    , Jakarta: Bulan Bintang,
    1978.
  13. Langit dan
    Para Penghuninya
    (terjemahan dari bahasa Arab),
    Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
  14. Apa Sebab
    Al-Qur‘an tidak Bertentangan dengan Akal
    (terjemahan dari Bahasa Arab),
    Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
  15. Mengapa Ibadah
    Puasa Diwajibkan Akal
    (terjemahan dari Bahasa Arab),
    Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
  16. Mengapa Ummat
    Islam Mempertahankan Pendidikan Agama dalam Sistem Pendidikan
    Nasional
    ,
    Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
  17. Nabi Muhammad
    Sebagai Panglima Perang
    , Jakarta: Mutiara,
    1978.
  18. Dakwah
    Islamiyah dan Kaitannya dengan Pembangunan Manusia
    , Jakarta: Mutiara,
    1978.
  19. Pokok Pikiran
    Sekitar Dakwah Islamiyah
    , Banda Aceh: Majelis Ulama Daerah
    Istimewa Aceh, 1981.
  20. Sejarah Masuk
    dan Berkembangnya Islam di Indonesia
    , Bandung: Al-Ma‘arif,
    1981.
  21. Syiah dan
    Ahlussunnah Saling Rebut Pengaruh di Nusantara
    , Surabaya, Bina Ilmu,
    1984.
  22. Bernarkah
    Dakwah Islamiyah Bertugas Membangun Manusia
    , Bandung: Al-Ma‘arif,
    1983.
  23. Publisistik
    dalam Islam
    , Jakarta: Penerbit Beuna,
    1983.
  24. Sejarah
    Kebudayaan Islam di Indonesia
    , Jakarta: Bulan Bintang,
    1990.
  25. Malam-malam
    Sepi di Rumah Sakit MMC Kuningan Jakarta
    , Banda Aceh: Yayasan Pendidikan
    Ali Hasjmy, 1992.
  26. Mimpi-mimpi
    Indah di Rumah Sakit MMC Kuningan Jakarta
    , Banda Aceh: Yayasan Pendidikan
    Ali Hasjmy, 1993.
  27. Wanita
    Indonesia sebagai Negarawan dan Panglima Perang
    (belum diketahui data
    penerbitnya).

3. 3. Karya di Bidang
Politik

  1. Di Mana
    Letaknya Negara Islam
    (tata negara Islam), Singapura:
    Pustaka Nasional, 1970; Surabaya: Bina Ilmu, tahun belum diketahui datanya.
  2. Pemimpin dan
    Akhlaknya
    ,
    Banda Aceh: Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Aceh, 1973.
  3. Apa Sebab
    Rakyat Aceh Sanggup Berperang Puluhan Tahun Melawan Agresi
    Belanda

    (berasal dari buku Hikayat Perang Sabil Menjiwai Perang Aceh Lawan
    Belanda
    , setelah ditambahkan dan disempurnakan), Jakarta: Bulan Bintang,
    1979.
  4. Bunga Rampai
    Revolusi dari Tanah Aceh
    , Jakarta: Bulan Bintang,
    1980.
  5. Perang Gerilya
    dan Pergerakan Politik di Aceh untuk Merebut Kemerdekaan Kembali
    , Banda Aceh: Majelis Ulama
    Daerah Istimewa Aceh, 1980.
  6. Mengenang
    Kembali Perjuangan Missi Hardi
    , Bandung: Al-Ma‘arif,
    1983.
  7. Ulama
    Indonesia sebagai Pejuang Kemerdekaan dan Pembangunan Tamaddun
    Bangsa

    (belum diketahui data penerbitnya).

3. 4. Karya di Bidang
Hukum

  • Sejarah Hukum
    Islam
    ,
    Banda Aceh: Majelis Ulama Daerah Istimewa Aceh, Banda Aceh,
    1970.

3. 5. Karya di Bidang
Etika

  • Risalah
    Akhlak
    ,
    Jakarta: Bulan Bintang, 1977.

3. 6. Karya di Media
Massa

A. Hasjmy aktif menulis di berbagai
majalah dan harian yang terbit di Banda Aceh, Medan, Padang Panjang, Padang,
Jakarta, Bandung, Surabaya, Singapura, dan Malaysia. Berikut ini adalah daftar
media massa yang pernah ditulisnya:

  1. Sebelum Perang
    Dunia II: Pujangga Baru (Jakarta), Angkatan Baru (Surabaya), Pahlawan Muda
    (Padang), Kewajiban (Padang Panjang), Raya, Matahari Islam, Pemimpin Redaksi
    (Padang), Panji Islam, Pedoman Masyarakat, Gubahan Maya, Suluh Islam, Miami
    (Medan), Fajar Islam (Singapura),  
  2. Setelah Perang
    Dunia II: Dharma, Pahlawan, Widjaya, Bebas, Sinar Darussalam, Majalah Puwan,
    Gema Ar-Raniry, Serambi Indonesia (Banda Aceh), Nusa Putera, Karya Bakti,
    Majalah Amanah, Panji Masyarakat, Harmonis, Mimbar Ulama (Jakarta), Harian
    Waspada (Medan).
       

4.
Penghargaan

A. Hasjmy mendapatkan penghargaan
Bintang Maha Putera Utama dari pemerintah Republik Indonesia yang langsung
diserahkan oleh Presiden Soeharto pada saat upacara memperingati Hari Ulang
Tahun RI ke-48 (tanggal 17 Agustus 1993). Pemerintah Mesir juga pernah
menganugerahi bintang perhargaan tertinggi kepada A. Hasjmy yang langsung
disematkan oleh Presiden Hosni Mubarak ketika itu.

Sumber:

  • “Ali
    Hasjmy”, dalam www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/hasjmy.html, diakses tanggal 25
    November 2007.
  • Ismail,
    Badruzzaman dkk (ed.). 1994. Delapan Puluh Tahun Melalui Jalan Raya Dunia: A.
    Hasjmy Aset Sejarah Masa Kini dan Masa Depan
    . Jakarta: Bulan
    Bintang.
  • http://www.melayuonline.com

Laksamana Keumalahayati

Sunday, July 6th, 2008

Riwayat Hidup

Laksamana Keumalahayati merupakan
wanita pertama di dunia yang pernah menjadi seorang laksamana. Ia lahir pada
masa kejayaan Aceh, tepatnya pada akhir abad ke-XV. Berdasarkan bukti sejarah
(manuskrip) yang tersimpan di University Kebangsaan Malaysia dan berangka tahun
1254 H atau sekitar tahun 1875 M, Keumalahayati berasal dari keluarga bangsawan
Aceh. Belum ditemukan catatan sejarah secara pasti yang menyebutkan kapan tahun
kelahiran dan tahun kematiannya. Diperkirakan, masa hidupnya sekitar akhir abad
XV dan awal abad XVI.

Laksamana Keumalahayati adalah
putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah,
putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam
sekitar tahun 1530-1539 M. Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan
Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh
Darussalam.  

Jika dilihat dari silsilah
tersebut, maka dapat dikatakan bahwa Laksamana Keumalahayati merupakan keturunan
darah biru atau keluarga bangsawan keraton. Ayah dan kakeknya pernah menjadi
laksamana angkatan laut. Jiwa bahari yang dimiliki ayah dan kakeknya tersebut
kelak berpengaruh besar terhadap kepribadiannya. Meski sebagai seorang wanita,
ia tetap ingin menjadi seorang pelaut yang gagah berani seperti ayah dan
kakeknya tersebut.

a. Riwayat
Pendidikan

Ketika menginjak usia remaja,
Laksamana Keumalahayati mendapatkan kebebasan untuk memilih pendidikan yang
diinginkannya. Ketika itu Kesultanan Aceh Darussalam memiliki Akademi Militer
yang bernama Mahad Baitul Makdis, yang terdiri dari jurusan Angkatan Darat dan
Angkatan Laut. Setelah menempuh pendidikan agamanya di Meunasah, Rangkang, dan
Dayah, oleh karena ia ingin mengikuti karir ayahnya sebagai laksamana, maka ia
mendaftarkan diri dalam penerimaan taruna di Akademi Militer Mahad Baitul
Makdis. Ia diterima di akademi ini dan dapat menempuh pendidikan militernya
dengan sangat baik. Bahkan, ia berprestasi dengan hasil yang sangat memuaskan.

Sebagai siswa yang berprestasi,
Laksamana Keumalahayati berhak memiliki jurusan yang diinginkannya. Ia memilih
jurusan Angkatan Laut. Ketika menempuh pendidikan di akademi ini ia pernah
berkenalan dengan seorang calon perwira laut yang lebih senior (data tentang
namanya belum diketahui). Perkenalan tersebut berlanjut hingga benih-benih kasih
sayang terbangun di antara mereka. Mereka berdua akhirnya bersepakat untuk
saling memadu kasih dan menyatukan diri ke dalam cinta. Setelah tamat dari
Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, keduanya melangsungkan pernikahan.

Setelah menamatkan studinya di
Akademi Militer Mahad Baitul Makdis, Laksamana Keumalahayati berkonsentrasi pada
dunia pergerakan dan perjuangan. Ia diangkat oleh Sultan Alauddin Riayat Syah
al-Mukammil (1589-1604 M) sebagai Komandan Protokol Istana Darud-Dunia di
Kesultanan Aceh Darussalam. Jabatan tersebut merupakan kepercayaan sultan
terhadap dirinya, sehingga ia perlu menguasai banyak pengetahuan tentang etika
dan keprotokolan.

b. Riwayat
Perjuangan

Kisah perjuangan Laksamana
Keumalahayati dimulai dari sebuah perang di perairan Selat Malaka, yaitu antara
armada pasukan Portugis dengan Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh
Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil dan dibantu oleh dua orang laksamana.
Pertempuran sengit terjadi di Teluk Haru dan dimenangkan oleh armada Aceh, meski
harus kehilangan dua laksamananya dan ribuan prajuritnya yang tewas di medan
perang. Salah satu laksamana yang tewas tersebut adalah suami Laksamana
Keumalahayati sendiri yang menjabat sebagai Komandan Protokol Istana
Darud-Dunia. Setelah suaminya meninggal dunia dalam peperangan tersebut, ia
berjanji akan menuntut balas dan bertekad meneruskan perjuangan suaminya meski
secara sendirian.

Untuk memenuhi tujuannya tersebut,
Laksamana Keumalahayati meminta kepada Sultan al-Mukammil untuk membentuk armada
Aceh yang semua prajuritnya adalah wanita-wanita janda karena suami mereka gugur
dalam Perang Teluk Haru. Permintaan Keumalahayati akhirnya dikabulkan. Ia
diserahi tugas memimpin Armada Inong Balee dan diangkat sebagai laksamananya. Ia
merupakan wanita Aceh pertama yang berpangkat laksamana (admiral) di Kesultanan
Aceh Darussalam. Armada ini awalnya hanya berkekuatan 1000 orang, namun kemudian
diperkuat lagi menjadi 2000 orang. Teluk Lamreh Krueng Raya dijadikan sebagai
pangkalan militernya. Di sekitar teluk ini, ia membangun Benteng Inong Balee
yang letaknya di perbukitan.

Setelah memangku jabatan sebagai
laksamana, Keumlahayati mengkoordinir pasukannya di laut, mengawasi berbagai
pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah penguasaan syahbandar, dan mengawasi
kapal-kapal jenis galey milik Kesultanan Aceh Darussalam. Seorang nahkoda kapal
Belanda yang berkebangsaan Inggris, John Davis, mengungkapkan fakta bahwa pada
masa kepemimpinan militer Laksanana Keumalahayati, Kesultanan Aceh Darussalam
memiliki perlengkapan armada laut yang di antaranya terdiri dari 100 buah kapal
(galey) dengan kapasitas penumpang 400-500 orang.

Kisah perjuangan Laksamana
Keumalahayati tidak berhenti di sini. Ia pernah terlibat dalam pertempuran
melawan kolonialisme Belanda. Ceritanya, pada tanggal 22 Juni 1586, Cornelis de
Houtman memimpin pelayaran pertamanya bersama empat buah kapal Belanda dan
berlabuh di Pelabuhan Banten. Setelah kembali ke Belanda, pada pelayaran yang
kedua, ia memimpin armada dagang Belanda yang juga dilengkapi dengan kapal
perang. Hal itu dilakukan untuk menghadapi kontak senjata dengan Kesultanan Aceh
Darussalam pada tanggal 21 Juni 1599. Dua buah kapal Belanda bernama de Leeuw
dan de Leeuwin yang dipimpin oleh dua orang bersaudara, Cornelis de Houtman dan
Frederick de Houtman, berlabuh di ibukota Kesultanan Aceh Darussalam. Pada
awalnya, kedatangan rombongan tersebut mendapat perlakuan yang baik dari pihak
kesultanan karena adanya kepentingan hubungan perdagangan.

Namun, dalam perkembangan
selanjutnya Sultan al-Mukammil tidak senang dengan kehadiran rombongan tersebut
dan memerintahkan untuk menyerang orang-orang Belanda yang masih ada di
kapal-kapalnya. Ada dugaan bahwa sikap Sultan tersebut banyak dipengaruhi oleh
hasutan seseorang berkebangsaan Portugis yang kebetulan menjadi penerjemahnya.
Serangan tersebut dipimpin sendiri oleh Laksamana Keumalahayati. Alhasil,
Cornelis de Houtman dan beberapa anak buahnya terbunuh, sedangkan Frederick de
Houtman tertangkap dan dimasukkan ke dalam penjara (selama 2 tahun).
Keberhasilan Laksamana Keumalahayati merupakan sebuah prestasi yang sungguh luar
biasa.

Keumalahayati ternyata bukan hanya
sebagai seorang Laksamana dan Panglima Angkatan Laut Kesultanan Aceh Darussalam,
namun ia juga pernah menjabat sebagai Komandan Pasukan Wanita Pengawal Istana.
Jabatan ini merupakan tugas kesultanan dalam bidang diplomasi dan ia bertindak
sebagai juru runding dalam urusan-urusan luar negeri. Ia sendiri telah
menunjukkan bakatnya dan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ia memiliki
sifat dan karakter yang tegas sekaligus berani dalam menghadapi berbagai momen
perundingan, baik dengan Belanda maupun Inggris. Meski begitu, sebagai diplomat
yang cerdas, ia dapat bersikap ramah dan luwes dalam melakukan berbagai
perundingan.

Pada tanggal 21 November 1600,
rombongan bangsa Belanda yang dipimpin Paulus van Caerden datang ke Kesultanan
Aceh Darussalam. Sebelum memasuki pelabuhan, rombongan ini menenggelamkan sebuah
kapal dagang Aceh dengan terlebih dahulu memindahkan segala muatan lada yang ada
di dalamnya ke kapal mereka. Setelah itu datang lagi rombongan bangsa Belanda
kedua yang dipimpin oleh Laksamana Yacob van Neck. Mereka mendarat di Pelabuhan
Aceh pada tanggal 31 Juni 1601. Mereka memperkenalkan diri sebagai bangsa
Belanda yang datang ke Aceh untuk membeli lada. Setelah mengetahui bahwa yang
datang adalah bangsa Belanda, Laksamana Keumalahayati langsung memerintahkan
anak buahnya untuk menahan mereka. Tindakan tersebut mendapat persetujuan Sultan
al-Mukammil karena sebagai ganti rugi atas tindakan rombongan Belanda
sebelumnya.

Pada tanggal 23 Agustus 1601, tiba
rombongan bangsa Belanda ketiga yang dipimpin oleh Komisaris Gerard de Roy dan
Laksamana Laurens Bicker dengan empat buah kapal (Zeelandia, Middelborg, Langhe
Bracke, dan Sonne) di Pelabuhan Aceh. Kedatangan mereka memang telah disengaja
dan atas perintah Pangeran Maurits. Kedua pimpinan rombongan mendapat perintah
untuk memberikan sepucuk surat dan beberapa hadiah kepada Sultan al-Mukammil.
Sebelum surat diberikan, sebenarnya telah terjadi perundingan antara Laksamana
Keumalahayati dengan dua pimpinan rombongan Belanda. Isi perundingan tersebut
adalah terwujudnya perdamaian antara Belanda dan Kesultanan Aceh, dibebaskannya
Frederick de Houtman, dan sebagai imbalannya Belanda harus membayar segala
kerugian atas dibajaknya kapal Aceh oleh Paulus van Caerden (akhirnya Belanda
mau membayar kerugian sebesar 50.000 golden).

Setelah itu hubungan antara Belanda
dan Kesultanan Aceh berlangsung cukup baik. Kehadiran bangsa Belanda dapat
diterima secara baik di istana kesultanan dan mereka diperbolehkan berdagang di
Aceh. Sebagai lanjutan dari hubungan baik antara Belanda dan Kesultanan Aceh,
maka diutuslah tiga orang untuk menghadap Pangeran Maurits dan Majelis Wakil
Rakyat Belanda. Ketiga orang itu adalah Abdoel Hamid, Sri Muhammad (salah
seorang perwira armada laut di bawah Laksamana Keumalahayati), dan Mir Hasan
(bangsawan kesultanan). Meski sedang dilanda perang melawan kolonialisme
Spanyol, pihak Belanda menyambut utusan Aceh tersebut dengan upacara kenegaraan.
     

Peran diplomatik Laksamana
Keumalahayati masih berlanjut. Hal ini bermula dari keinginan Inggris untuk
menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ratu Elizabeth I
(1558-1603 M) mengirim utusan untuk membawa sepucuk suratnya kepada Sultan Aceh
al-Mukammil. Rombongan yang dipimpin oleh James Lancaster, seorang perwira dari
Angkatan Laut Inggris ini, tiba di Pelabuhan Aceh pada tanggal 6 Juni 1602.
Sebelum bertemu dengan Sultan al-Mukammil, Lancaster mengadakan perundingan
dengan Laksamana Keumalahayati. Dalam perundingan itu, Lancaster menyampaikan
keinginan Inggris untuk menjalin kerjasama dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Ia
juga berpesan agar Laksamana Keumalahayati memusuhi Portugis dan berbaik hati
dengan Inggris. Laksamana Keumalahayati meminta agar keinginan tersebut dibuat
secara tertulis dan diatasnamakan Ratu Inggris. Setelah surat tersebut selesai
dibuat, Lancaster diperkenankan menghadap Sultan al-Mukammil.

Laksamana Keumalahayati juga
berperan besar dalam menyelesaikan intrik kesultanan. Hal ini bermula dari
peristiwa penting perihal suksesi kepemimpinan di Kesultanan Aceh Darussalam.
Pada tahun 1603 M, Sultan al-Mukammil menempatkan anak lekaki tertuanya sebagai
pendamping dirinya. Namun, rupanya putra tersebut berkhianat terhadap ayahnya
dan mengangkat dirinya sebagai Sultan Aceh dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah
(1604-1607 M).

Pada masa awal kepemimpinannya,
berbagai macam bencana menimpa Kesultanan Aceh Darussalam, seperti kemarau yang
berkepanjangan, pertikaian berdarah antar saudara, dan ancaman dari pihak
Portugis. Tidak ada keinginan kuat dari Sultan Ali Riayat Syah untuk
menyelesaikan masalah tersebut dengan serius. Maka banyak timbul rasa kekecewaan
dari punggawa kesultanan, salah satu di antaranya adalah Darmawangsa Tun
Pangkat, kemenakannya sendiri. Darmawangsa ditangkap dan dipenjara atas perintah
Sultan.

Pada bulan Juni 1606, Portugis
menyerang Kesultanan Aceh Darussalam yang dipimpin oleh Alfonso de Castro.
Ketika itu Darmawangsa masih berada di penjara. Ia memohon kepada Sultan Ali
Riayat Syah agar dirinya dapat dibebaskan dan dapat ikut bertempur melawan
Portugis. Dengan didukung adanya pemintaan Laksamana Keumalahayati, Darmawangsa
akhirnya dapat dibebaskan. Mereka berdua akhirnya berjuang bersama dan dapat
menghancurkan pasukan Portugis.

Oleh karena Sultan Ali Riayat Syah
dianggap banyak kalangan tidak cakap lagi memimpin kesultanan, maka Laksamana
Keumalahayati melakukan manuver dengan cara menurunkan Sultan Ali Riayat Syah
dari tahta kekuasaan. Darmawangsa akhirnya terpilih sebagai Sultan Aceh dengan
gelar Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Pada masanya, Kesultanan Aceh
Darussalam mencapai zaman keemasan. (Bersambung).

sumber :

  • Abdurrahman, G. dkk.
    2002. Biografi-Biografi Pejuang Aceh. Banda Aceh: Dinas Kebudayaan
    Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
  • Laksamana Keumalahayati: Perempuan Laksamana dari Aceh”,
    dalam
    www.sinarharapan.co.id/berita/0711/13/hib03.html, diakses tanggal
    17 Desember 2007.
  • www.melayuonline.com

Masak Mie di Asrama Putri

Friday, July 4th, 2008

Pada suatu malam ,ya kira2 jam 10 malam 2 orang manusia yg tinggal di
TU 9 sedang kelaparan berat,……rasa lapar itu memaksa kami
melangkahkan kaki ke tempat pak isa untuk membeli 4 bungkus mie instan
dan 2 butir telur,sampai di TU kami langsung mencari wajan untuk
memasak mie tersebut,setelah mencari beberapa saat betapa kagetnya
kami… ternyata wajan yg selama ini hilang tergeletak dibawah meja
makan dan sudah menjadi habitat "sacaromises dan keluarga jamur2 yg
lain" karena jijik niat memasakpun ingin dibatalkan…tetapi kami tidak
kuat menahan rasa lapar yg teramat sangat ini…maka mulailah kami
berjalan mengunjungi tiap kamar yg dimulai dari TU8-TU2 ,mungkin ada
secercah harapan dibenakku… yaitu ada wajan yg masih layak pakai
disana

heh.gif

,satu persatu kami kunjungi ,bukannya malah senang…kami terperanjat
kaget…karena keadaan disana ternyata jauh lebih parah dan bahkan ada
salah satu wajan menjadi wc umum buat para penghuni gelap asrama
"kucing"……. arghhh.. usaha udah dilakukan tp nasip berkata
lain…….sempat putus asa awalnya tp bukan manusia yg baik kalau
terus menerus larut dalam keputusasaan.
Karena rasa lapar mendorong
otak kami untuk berpikir keras,pada awalnya teori yg mengatakan bahwa
manusia akan lebih survive dalam keadaan tertekan hanyalah buah manis
yg ceritakan untuk meringankan beban keputusasaan,ternyata anggapanku
itu salah besar dan itu sudah aku buktikan,walau skalanya masih kecil,
beberapa saat berfikir lalu muncullah ide gila kami untuk memasak mie
tadi di CND (teng de deng)……..kami segera ke lantai 2 TU 9,lalu
memandang kearah CND 2, dan disana ada seorang junior yg sedang
memegang sebuah buku,kode alam pun kami lakukan (kode ini hanya
dimengerti oleh anak2 asrama SMU Patra Nusa),dia mengangguk2 kepala
pertanda paham apa yg dimaksud oleh seniornya

gg.gif

,dia pun bergegas menuju kekamar bawah memberitahukan peristiwa
bersejarah ini kepada senior perempuan (Mrs X),mrs X paham akan kode yg
kami sampaikan melalui juniornya.
Aaaaaaa….. teriakan para
perempuan di CND 2,kedengaran sekali teriakan mereka tapi itu adalah
kode awal skenario besar ini dijalankan.selang beberapa saat bu Yanti
sang guru Ekonomi sekaligus pengawas Astri datang ke lokasi kejadian
menanyakan apa yg sedang terjadi,"lampu mati bu,mungkin skringnya
putus" itulah jawaban Mrs X…hahahaha kalau sudah begini biasalah,aku
sebagai perpanjangan tangan PLN (julukan ngasal karena keseringan
masang lampu dan benerin skring) pasti akan dipanggil kesana untuk
sekedar menyambung skring yg putus tadi (maklum skring
jadul)….tebakanku benar,beberapa saat kemudian anak bu yanti yg usia
6 tahun datang kedepan asrama mengatakan "bang roni.. dipanggil mama
"… aku hanya bisa mengatakan "yess" skenario pertama berjalan dengan
mulus…tiba saatnya menjalankan skenario lanjutan…..setibanya aku
didepan CND 2 bu yanti langsung tersenyum dengan mengatakan "nasip
pegawai PLN",setelah tersenyum si ibu pergi meninggalkan TKP,sambil
memeriksa sekring yg ada.. sesekali aku menoreh kearah bu yanti yg
semakin menjauh meninggalkan TKP, si mrs X hanya menggeleng2kan
kepalanya sambil berkata "ada apa,kayanya penting ??" tanpa basa basi
aku langsung menyampaikan maksudku…tanpa bassa basi dia menyanggupi
sambil tertawa terbahak2…..bahan2 pun kuserahkan…(4 bungkus mie
instan + 2 butir telur)…….waktu sengaja ku ulur2 sampai tiba
waktunya mie selesai di masak,dan skringpun siap dipasang kembali
(skring emang ga ada masalah,itu hanya skenario)…..lampu hidup
menjadikan CND 2 terang benderang….dan itu juga sebagai pertanda agar
Mr Y segera bergerak menunggu dibelakang CND menantikan mie pengganjal
perut ini……….setelah Mrs X mengodekan aku untuk pergi berarti
skenario 2 berhasil dengan mulus,akupun pamitan…..dan pulang ke TU
9…sesampai disana sudah ada 2 piring mie telur yg siap mengganjal
perut kami sambil tertawa mengingat2 skenario nekat yg berhasil kami
laksanakan,sembari mengerutkan dahi dan berkata "kok rasanya lebih
sedikit ya porsinya" si Mr Y berkata "25% pajak preman"….hahahahahaha
kamipun tertawa.. dan mengakhiri kisah nekat ini.

hehe2.gif

-cerita ini 30% fiksi dan 70% nyata- U Know lah maksudnya

rahasia.gif