Sebuah Wasiat dari Ibu (Chapter 2)

Chapter 2

» Pak robet yg menyeramkan

Sehabis sarapan aku bergegas  mengeluarkan motor kesayangan ayah,vespa butut
tahun 80 an, kuhidupkan sambil menunggu mesinnya panas,sementara ayah sibuk
mengemasi keperluan akbar,yah akbar akan dititipkan ketempat bibiku yg ada didesa
sebelah.

“ayo kita berangkat sama2 ri”

“sudah ayah duluan saja,saya
nanti dijemput feri”

“ya sudah kalau gitu ayah duluan”

“hati2 dijalan yah,
assalamualaikum”

“waalaikumsalam wr wb”

kulihat ayahku berangkat bersama
nisa yg berada dibelakang dan akbar yg berada didepan semakin jauh dari
pandangan,tiba2 terdengar suara klakson motor …tiiiiiin….tiiiiiin, pertanda si
feri datang.

“ui heri buruan tar kita
terlambat nih”

“iya bentar aku nitip kunci rumah
ke bu wati dulu”

Akupun berangkat ke sekolah,melewati
jalan2 kecil didesaku.ku lihat panorama alamnya sangat indah,desa yg masih
sejuk jauh dari kebisingan kota,tepat dipersimpangan jalan menuju kota ada
seorang dari arah berlawanan berteriak…

“ada razia…ada razia”

“dimana bang…??”

“itu didekat toko roti sarijadi”

Sesaat feri mengeluarkan
dompetnya buat memastikan bahwa dia membawa SIM,dibuka2 isi dompetnya namun dia
tidak menemukan apa2 kecuali kartu pelajar dan uang saku,wajahnya jadi pucat.

“aih mak jang”

“kenapa fer….??”

“SIM ku ketinggalan dirumah ri”

Kami pun jadi bingung ,lalu aku
berpikir2 mencari solusinya,tiba2 keluar ide nakalku untuk mengelabui
polisi,feri melihat wajahku dan iya langsung paham apa yg ingin aku sampaikan.

“masih banyak jalan keroma kan”

“kita mutar jalur fer” sambil
tersenyum kecil feri mengiyakan ideku

Kamipun mengambil jalur
alternative atau lebih dekenal dengan jalan tikus,tanpa piker panjang langsung
tancap gas,ditengah perjalanan ternyata ada banyak orang yg memikirkan ide yang
sama dengan kami,kamipun berjalan laksana gerombolan orang yg siap berangkat
demo…..aku sangat geli melihatnya.Sepandai2 tupai melompat akhirnya terpeleset
juga begitulah kata pepatah,jalur altenatif yg dilalui aku dan orang2 ternyata
sudah ditunggui 4 orang polisi dengan wajah yg sangar2,spontan saja langsung
balik arah,polisi melambai2kan tangannya.

“hei berhenti”

Tanpa menghiraukan aba2 polisi
tadi langsung tancap gas,kejar2ran pun terjadi,adegan yg biasa kulihat di film2
terjadi disini,Cuma hanya beda tempat saja,disini kejar2rannya keluar masuk
kampung……

“cepat fer…cepat….”

“iya…iya ini udah cepat” sambil
setengah berteriak feri menanyakan

“pukul berapa sekarang”

“tujuh lewat duapululima menit”

“waktu kita lima menit,kalau
tidak sampai ke sekolah bisa gawat”

Ingatanku langsung tertuju pada
pak robet,satpam sekolah yg sangat galak tidak ada murid yg tidak takut
padanya,memandangnya saja sudah bikin seluruh kaki gemetaran apalagi kalau
sudah keluar kata2nya bisa kena serangan jantung.

“fyuh akhirnya sampe juga kita ke
sekolah ri”

Suasanapun menjadi hening,aku
melihat ada keanehan didepan pintu gerbang,suasana itu perlahan2
masuk..terus…terus…dan terus membayang-bayangi diriku,feri memperlambat
motornya hingga sampai kedepan pintu gerbang SMA 1 Fajar Harapan,ada beberapa
wajah yg sangat tidak asing bagiku..ucup,amri dan faisal,mereka juga
terlambat.dari pos jaga keluar seorang bertubuh tegap,tinggi dan mantan preman
pula sambil memegang2 pentungan.

“pagi anak2”

“pagiiiiiiiiiiiii pak robet”

“oke kalian telat 5 menit,tau
artinya kan”

Sambil tangan kanan memelintirkan
kumisnya dan tangan kiri memegang pentungan,tidak ada pilihan lain kecuali
menurut, tanpa aba2 kamipun langsung mengambil posisi push up, yg bener aja,5
menit telat,tiap menitnya 10x push up,aaaarrg kesalku dalam hati,tetapi dari
pada kena bogem mending ngalah deh pikirku.

“hitungan dimulai dari ucup” pak
robet pun memulai aksinya

ucup memang langganan kena push
up,sampai2 pak robet kenal betul dengannya.

“oke kawan2 kita mulai ya “
teriak ucup

“satu……………….satu” kamipun menyaut
dengan nada semangat bercampur emosi

“dua………….dua” masih sangat
semangat

“tiga………tiga” masih semangat

“duapuluh…………” tak satupun
menjawab karena sudah kelelahan

“duapuluh lima……”.

Hueeeeek…hueeeeeek…si faisal
mengeluarkan adonan dari dalam perutnya,entah karena apa dia bisa sampai
muntah.

“hey faisal kenapa kamu ?? tidak
biasanya” pak robet merasa aneh,biasanya si faisal paling semangat kalau
dihukum,orang yg aneh.

“tadi pagi saya lupa sarapan pak”
jawab faisal dengan wajah yg pucat

“kenapa kamu gak bilang” pak
robet lalu mengambil roti dan secangkir the di pos jaganya lalu diberikan
kepada faisal “ini sarapan dulu”.. ternyata masih ada sisi kemanusiaan pak
robet yg tersembunyi dibalik tampangnya.

“kalian ngapain lihat2 saya,lanjutkan
push up nya”

Hah,menyesal aku memujinya,walau
ada nilai kemanusiaannya dia kembali buas kalau melihat mangsanya merasa
merdeka sedikit.

Setelah selesai dengan hukuman
pak robet membawa kami ke ruang gudang,entah kenapa aku agak sedikit
curiga,jangan2 kami mau …..?? “gumamku dalam hati”, sesampai di gudang dia
menyuruh kami untuk duduk,aku dan teman2 mengambil kursi2 yg ada didalam gudang.Pak
robet lalu membagikan kertas kosong pada kami,dia menyuruh kami membuat surat
perjanjian agar tidak telat lagi.Sesaat kamipun menyalin apa yg dikatakan oleh nya.

“saya yg bertanda tangan dibawah
ini” lalu dia menyuruh mencantumkan nama dan nomor induk siswa.

“dengan ini menyatakan,tidak akan
mengulangi lagi terlambat datang kesekolah”

“tertanda”

lalu kami memberi nama dikolom
bawah beserta tanda tangan,sejenak saya berpikir,sepertinya ada yg aneh,aku
tidak melihat ucup memegang kertas dan balpoin,aku ingin protes tetapi
kutahan,pasti ada hal penting yg sedang ditutupi.surat perjanjian itu pun lalu
kami serahkan,pak robet memandangku dengan tampang yg sangat menyeramkan.

“kenapa ri…?? Mau protes ??”

“ah engggga pak” mending ngalah
deh daripada ngelawan sama bapa,gumamku dalam hati

“sepertinya kamu kurang puas ??”

“ah yg bener aja pak ,saya puas
koq” sambil memandang kea rah teman2.

“gini ri,aku sudah hidup lebih
lama dari kamu,pengalamanku lebih banyak,kalau kamu tidak puas karena ucup
tidak membuat surat pernyataan, bilang saja”

Aku langsung terdiam,sambil
mengiyakan dalam hati,akupun bingung pak robet ternyata bukan orang
sembarangan,dia bisa membaca maksud seseorang dengan anya melihat wajah.

“kau tau ri,kenapa ucup tidak
kusuruh buat surat pernyataan?? “

“emang kenapa pak??” aku pun
dibuat semakin bingung.

“kalau dia kusuruh buat surat
pernyataan,berarti sudah 11 kali dia nulis surat,bisa jadi keseblasan bola lah”…

kupikir2 benar juga ya,tipe orang
kaya ucup gak bakal mempan hanya dengan surat2an,pasti ada rencana baik dibalik
ini,ah semakin menarik saja pak robet ini.

“sudah kalian kembali kekelas
sana,keadaanmu gimana sal sudah baikan”

“lumayan pak, teh manisnya enak
kali” sambil tertawa renyah

Suasana mencekam itupun berubah
menjadi tawa,kami pun keluar gudang dan kembali kekelas masing2,tetapi masih
ada pertanyaan besar dalam hatiku,apa gerangan si ucup terlalu diperhatikan
sama pak robet,pasti ada rahasia besar dibalik ini……hah entahlah sekali seram
tetap menyeramkan

Leave a Reply