Sebuah Wasiat dari Ibu
Chapter I » Pagi yang cerah
Seperti
biasanya sehabis azan subuh ayah pasti datang kekamarku dan berusaha
membangunkanku,langkah itu kedengaran sangat jelas bagiku terus mendekat,sapai
pada waktunya belayan tangan ayah singah dikeningku sambil berbisik
“her…heri…bangun..sholat subuh
dulu”
“iya iya ini sudah bangun ”
“ya udah buruan bangun sudah
ditungguin , kita sholat jamaah “
Fiuh,sholat
subuh jamaah dirumah merupakan agenda rutin dikeluargaku ,kuingat2 kembali
memoriku,tadi isya ketiduran,zuhur sama ashar kelupaan,eh magribnya
kelewatan…tapi aku masih lumayan dibandingkan si abdul sholatnya hanya 2x
setahun ,itupun Cuma mau ngeceng liat2 cw….hah.. terkadang aku merasa semakin
sedikit saja jumlah orang2 alim dibumi ini.
Sehabis
sholat subuh aku beranjak kekamar sebentar,aku melihat keadaan kamarku sangat
berantakan,kurapikan sebisaku….tanpa sadar pandanganku mengarah pada sebuah
foto,aku melihat wajah yg sangat tidak asing bagiku,wajah yg selalu membelaiku
dengan penuh kasih sayang yang selalu berusaha menyemangatiku ketika aku jatuh…yah
itulah dia wajah ibuku,seorang bidan desa yg mau bersusah payah mengabdi
bertahun2 pada masyarakat dengan ikhlas tidak mengharapkan imbalan
apapun,terkadang aku emosi dengan keadaan ini,ibuku mengabdi bertahun2 dengan ikhlas
dan upah yg sangat minim tetapi tidak di SK kan sedangkan banyak bidan2 baru yg
baru 2-3 bulan mengabdi sudah diangkat jadi PNS…ini sangat tidak adil,geramku
dalam hati,aku masih teringat kata2 ibu 5 tahun yang lalu.
“heri kalau kerja itu yg
ikhlas,jangan ngarap macam2”
“kalau kamu dari awal sudah
mengharap2 ya mending ditinggalkan saja”
Ingatan itu masih menari2 di
otakku,tanpa sadar aku menangis mengingat akan keikhlasan ibu, mungkin suatu
hari pemerintah lebih peduli,banyak sekali orang2 seperti ibuku di Indonesia
ini.
Sesaat kemudian ayah memanggil
ku,aku kaget dengan panggilan itu,kuusap pipiku yg masih basah dengan linangan
air mata dan akupun beranjak ketempat ayah.
“iya bentar yah”
“cepat sayang udah pada kumpul
nih”
“iya….iya heri kesana sekarang”
Disana sudah berkumpul semua
keluargaku,ada ayahku,nisa dan akbar si bungsu, sehabis jamaah subuh kita akan
saling berdialog satu sama lain..yah bisa dibilang sebagai ajang curhat
keluarga dimana setiap anggota keluarga mengeluarkan unek2nya masing2 lalu kita
akan bahas bersama moga2 aja ketemu solusinya,ayahku bukan seorang yg ahli
agama,dia bukan berlatar belakang ulama, dia hanya seorang manusia biasa yg
berusaha memberikan yg terbaik buat keluarganya,iya hanya seorang guru SD
tamatan SPG.
Aku lalu duduk di tikar yg sudah
digelar,mushalla kecil dirumahku disulap sesaat jadi ruang serbaguna, tempat
dimana kami saling curhat,aku lihat wajah ayah masih menyimpan kesedihan yang
mendalam,yahku berubah 180 derajat sekarang,duli dia sangat tempramen,emosinya gampang
terbakar apalagi kalau aku melakukan kesalahan yg bertentangan dengan prinsip
dikeluarga kami,pernah sewaktu masih berusia 12 thn aku dikurung dikamar mandi
lantaran ketauan mencuri mangga pak arif,sebenarnya itu bukan ideku tapi atas
rasa pertemanan dengan kawan2 ku maka kulakukan juga, terkadang diusia yg masih
labil orang tidak berpikir panjang melakukan hal2 yg bertentangan dengan moral
atas alasan solidaritas…aku geli sendiri mengingatnya,ingin rasanya aku tertawa
lebar tapi kutahan,kini ayahku sudah berubah total semenjak kepergian ibuku 5
tahun lalu,yah 5 thn lalu ibuku meninggal dunia sewaktu melahirkan si
akbar,sejak saat itu ia berusaha menjadi seorang ayah dan ibu sekaligus,tetap
berprinsip tapi sangat lemah lembut…..
“nah sudah berkumpul semua”
“ayo kalau ada masalah
diceritakan saja,”
“Saya2 yah” nisa pun langsung
unjuk diri,adikku yg baru duduk dibangku kelas 5 sekolah dasar tanpa ragu2 dia
mulai dengan ceritanya,dia berkisah tentang teman barunya si fera,guru
kesayangannya pak makfi dan kejahilan2 kecil yg dilakukan bersama teman2 nya,
tiba2 nisa menundukkan wajahnya, ada perasaan sedih yg sangat dalam tersimpan
disana.
“loh koq tiba2 sedih nis”
“ngga apa2 bang”
“mau maen rahasia2an sama abang
nih,yaudah abang juga gak mau cerita deh sama nisa”
Sambil memandang kearah ayah,
ayahpun menganggukkan kepalanya pertanda mempersilahkan nisa melanjutkan
ceritanya.
“begini yah,ada teman2 nisa
disekolah suka mengejek2 nisa,katanya orang miskin ga boleh sekolah
disini,semua yg ada di nisa diejek,dari mulai sepatu sobeklah,baju bekas lah
sampai2 mereka bilang nisa gak pernah mandi”
aku sangat geram mendengar cerita
nisa, ingin rasanya aku bertemu orangtua teman2nya yg jahil itu, ayah lalu
angkat bicara,mencoba memecahkan masalah.
“ya sudah gini aja,anggap itu
sebagai ujianmu dalam menuntut ilmu, mengenai seragam sama sepatu, insyaallah
ayah belikan minggu depan”
“benar ya,janji loh”
“iya…kan minggu depan ayah
gajian”…
terlihat wajah nisa kembali
berseri,terkadang aku iri melihat dia, enaknya jadi anak2 mudah sekali rasanya
melupakan masalah.
“oh iya her saya dengar dari pak
basuki katanya kamu ada ulangan fisika ya 2 hari yg lalu”
Bagai ditusuk belati,aku langsung
pasang wajah sedih,semoga saja ayah tidak marah padaku
“iya yah”
“dapat berapa nilainya ????”
“besar sekali”
“iya berapa…?? “
“dua
puluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh”
Sesaat ayahku mengerutkan
keningnya,sambil mengelus2 dagunya,aku jadi merasa bersalah pada ayah.
“ya sudah gak apa her,Cuma yg
ingin ayah tekankan kamu harus lebih giat lagi belajarnya”
“ingat kamu anak pertama,adikmu
masih kecil2 kalau ayah sudah tidak ada lagi,kamulah jadi tumpuan keluarga”
Akupun mengangguk mengiyakan
perkataan ayahku, akupun berpikir sesaat,ku ingat2 memori yg masih tersisa,ku
aduk2..ku aduk2 sampai aku menemukan jawabannya….ngapain aku pada saat malam
ulangan…??arggggg tiba 2 aku teringat sedikit memori yg masih bertahan
dikepalaku…. Feriiiiii dia mengajakku ke rental play station pada malam
itu,sampai2 aku lupa belajar…XXXXX suasana hening sejenak,tetapi tidak sampai
deadlock seperti siding gedung disenayan Jakarta.
“hai heri…kamu melamun”
“angga yah” jawabku sambil
terbata2
“tenang her masih ada hari
esok,jng sampai semangatmu turun gara2 nilai fisika dapet 20”
“kamu mestinya bersyukur,dulu
waktu ayah di spg fisika ayah pernah dapat nilai 10 dari skala 100,toh sekarang
tetap jadi guru” tiba2 adikku si nisa nyeletuk
“hahahaha berarti bang heri lebih
pintar dari ayah dong”
Hahahahahahaha…suasana menjadi
riang kembali,pecah tawaku dan aku lihat si akbar ikutan tertawa walau dia
tidak mengerti apa,yah ayah memang sudah berubah,dia mengambil peran ganda
peran sebagai seorang ayah dan ibu sekaligus,mereka selalu menyemangati
anak2nya ketika terjatuh untuk bangkit kembali, aku bersyukur dilahirkan
ditengah2 keluarga seperti ini, orangtuaku sangat menghargai hasil kerja keras
anak2nya sekecil apapun.Pagi ini benar2 sangat indah.
«Bersambung»
March 1st, 2008 at 5:57 pm
Iseng gak tau mau ngapain,nyoba2 buat novel,yah itung2 buat ngisi waktu kosong
March 18th, 2008 at 2:41 pm
cara mudah buat novel cari latarnya (setting) dulu…
sorot beberapa bagian yg penting sebagai pengantar jikalau perlu garis besar dari latar belakang si tokoh utama ceritakan singkat saja (cara induksi lebih menarik biasanya karena terkesan misteri bagi pembacanya)…
berikan desc. secara garis besar untuk masalah yang akan diangkat di awal cerita baru pikirkan lebih baik untuk alur ceritanya akan dibawa kemana serta yang penting titik klimaks permasalahan dan penyelesaian akhir sehingga hikmah yg terpendam dapat sampai dan diterima masyarakat pembacanya.
July 28th, 2008 at 8:06 pm
oke bang rusdi,akan selalu kuingat kata2mu…
ceile.. gaya kali euy….,tenang aja serahkan semua padaku